Rabu, 28 September 2011

80 Th Jakob Oetama SYUKUR TIADA AKHIR


SYUKUR TIADA AKHIR
Jejak Langkah
Jakob Oetama

Penyusun:
St. Sularto

Penerbit Buku Kompas
Rp.98.000,-


JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam peringatan hari ulang tahunnya yang ke-80 di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), Selasa (27/9/2011), Jakob Oetama meluncurkan buku berjudul "Syukur Tiada Akhir". Buku ini berisi tentang kisah hidup Jakob yang menyampaikan pesan pergulatan tentang pekerjaan wartawan dan kehidupan pribadinya.

ST Sularto, penulis buku ini, mengaku awalnya diminta untuk menuliskan memoar dan bukan otobiografi pada bulan Mei lalu. Dia pun memulainya dengan mengumpulkan bahan tertulis dan mengunjungi sejumlah tempat yang menjadi saksi kehidupan seorang Jakob, termasuk pusara Romo Sanjaya di Muntilan, yang menurut Sularto, menjadi salah satu tempat impian Jakob untuk dikunjungi saat ini.

Ia mengatakan buku setebal 659 halaman ini menjabarkan perjalanan penulis yang dikenal produktif dan memiliki talenta intuisi intelektual, reflektif, visioner, dan bernuansa ini. Setelah Jakob menolak penggunaan kata 'saya' dalam rancangan awal tulisan yang dibuatnya, Sularto pun menyadari bahwa buku ini menjadi catatan penulis.

"Dimulai dari titik balik yang mengubah hidup dan perkembangan Kompas Gramedia dan refleksi pengalaman atas kelahiran sang pemula Intisari dan sang pengibar bendera Kompas berikut manajemen yang berinti pada bisa ngemong, pemikiran-pemikiran sosial kemasyarakatan, rentangan antara tahun 1960 sejak dia masih di Penabur sampai 2011," katanya dalam peluncuran buku.

Menurut Sularto pula, dalam buku ini muncul pula pemikiran-pemikiran yang mendasari pemikiran Jakob, misalnya Max Weber dan Fukuyama. Pemikiran ini menginspirasi Jakob untuk bertanya bagaimana mengenal Tanah Air dengan baik dan bagaimana negara ini maju kalau tidak bersatu. Intinya, pengalaman hidup Jakob dirangkum dalam satu kata, syukur.

"Syukur tiada akhir, tiga kata yang sering diucapkan lima tahun belakangan ini oleh Pak Jakob. Biasanya diucapkan dalam satu tarikan nafas dengan kata terima kasih. Semua terselenggara berkat penyelenggaraan Allah semata, Providencia Dei," ungkapnya.

Jakob lahir di Jowahan, Borobudur sebagai anak seorang guru sekolah rakyat. Sempat mengenyam pendidikan seminari untuk mengejar cita-citanya menjadi pastor, namun kemudian menekuni dunia mengajar. Setelah itu, Tuhan mengarahkannya menjadi wartawan hingga menjadi pengusaha.

Karirnya di dunia jurnalistik dimulai dari menjadi redaktur di majalah Penabur. Hingga pada tahun 1963, Jakob mendirikan majalah Intisari bersama PK Ojong, menyusul Kompas pada tahun 1965 dan unit-unit usaha lainnya.

Sebagai seorang wartawan, Jakob tidak pernah membiarkan dirinya selesai merasa resah. Dia selalu berusaha menggugat dalam profesinya sebagai jurnalis dan juga sebagai pribadi dengan selalu berusaha menjembatani nilai-nilai agama dan kehidupan nyata. Caranya? Jakob selalu menggoyang-goyangkan diri agar tidak merasa mapan dan senantiasa tidak pernah lelah berpikir.

Seperti dikatakannya, "Kemanusiaan yang beriman yang beliau selalu tekankan dari pergulatan batin Pak Jakob. Buku ini mengesankan terutama pada Bab 7 di mana Beliau sebut bahwa beriman selalu dibentur-benturkan dengan realitas. Yang namanya wartawan itu akan selalu hidup kalau dia selalu resah, selalu menggugat bahwa dia selalu tidak akan merasa mapan, bahwa dia akan selalu menggoyang-goyangkan diri agar tidak merasa mapan," tandas Sularto.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar